Sabtu, 7 Maret 2009, diJl Manyar Jaya Raya, seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah bernama dr. Pardana Dwiputra sedang mengendarai motornya dengan santai menuju rumahnya. Saat melintas di pertigaan antara Jl. Manyar Jaya Raya dengan Jl. Manyar Jaya III, tiba-tiba saja muncul dari arah kanan sebuah mobil Kijang warna coklat metalik melaju dengan kencang dari Jl. Manyar Jaya III menuju Gereja Bukit Zion. Meskipun dr. Pardana Dwiputra sudah berusaha mengerem dan menghindar tapi karena mobil melaju dengan cepat maka tabrakan pun tidak dapat dihindari. Motor dr. Pardana Dwiputra terpental dan terjatuh terbawa laju mobil, sedangkan dr. Pardana Dwiputra masih sempat melompat dari motornya, meski sedikit terlambat. Kenapa terlambat ? Karena meskipun sudah melompat menyelamatkan diri tapi lengan kanan bawah dr. Pardana Dwiputra mengalami patah tulang akibat benturan dengan badan mobil.
Melihat kejadian tersebut, orang-orang sekitar pun mendatangi lokasi kejadian. Pengemudi mobil kijang itu pun berhenti dan menghampiri dr. Pardana Dwiputra (entah karena kemauan dia sendiri ato karena takut dengan orang-orang yang sudah berkumpul di tempat kejadian), si sopir menanyakan kondisi dr. Pardana Dwiputra dan dr. Pardana Dwiputra pun menjelaskan bahwa lengan bawah kanannya mengalami patah tulang. Pada saat itu juga si sopir tersebut mengakui bahwa dia mempercepat laju mobilnya untuk menghindari tabrakan. Mendengar penjelasan dr. Pardana Dwiputra, salah seorang yang berkumpul di lokasi kejadian menyarankan agar dr. Pardana Dwiputra di bawa ke sangkal putung, mendengar itu, sambil tersenyum dr. Pardana Dwiputra menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang dokter. Mengetahui yang ditabraknya adalah dokter, si sopir menyatakan bahwa dirinya adalah mahasiswa fakultas kedokteran, dr. Pardana Dwiputra pun menanyakan universitasnya pada si sopir, si sopir menjawab bahwa dia adalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya, dr. Pardana Dwiputra cukup kaget mendengar jawaban itu karena tidak mengira akan ditabrak oleh adik kelasnya sendiri.
Mengetahui yang menabrak adalah adik kelasnya sendiri maka dr. Pardana Dwiputra pun berbaik sangka pada adik kelasnya tersebut sehingga tidak menghubungi pihak Polisi Lalu Lintas untuk melaporkan kejadian tersebut (dan ternyata itu adalah SEBUAH KESALAHAN BESAR yang dilakukan oleh dr. Pardana Dwiputra). Akhirnya dr. Pardana Dwiputra pun meminta adik kelasnya itu untuk mengantarkan ke RSUD Haji Surabaya. Dalam perjalanan, dr. Pardana Dwiputra dihubungi oleh kakaknya yang mengetahui kejadian tabrakan tersebut dari orang-orang yang mendatangi tempat kejadian, sesampai di UGD RSUD Haji, dr. Pardana Dwiputra segera ditangani, tidak lama kemudian kakak ipar dr. Pardana Dwiputra tiba di UGD RSUD Haji. Ketika menuju Radiologi untuk dilakukan foto X-Ray, dr. Pardana Dwiputra menanyakan tentang identitas diri si sopir tersebut, ternyata dia bernama ADI SISWANTO, seorang Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya angkatan 2006.
dr. Pardana Dwiputra masuk ruang foto X-Ray, dan pembicaraan dilanjutkan oleh kakak ipar dr. Pardana Dwiputra. Sama dengan dr. Pardana Dwiputra, kakak iparnya pun berbaik sangka dengan Adi Siswanto ini, dalam pembicaraan tersebut Adi Siswanto menyatakan kesanggupan untuk membantu membiayai perawatan, pengobatan dan operasi dr. Pardana Dwiputra. Adi Siswanto pun menyampaikan pada dr. Pardana Dwiputra bahwa dia akan membantu membiayai.
Inilah hasil foto X-Ray lengan bawah dr. Pardana Dwiputra
Hari itu juga dr. Pardana Dwiputra menjalani rawat inap untuk persiapan operasi. Setelah mendapatkan resep, dr. Pardana Dwiputra pun memberikan resep tersebut kepada Adi untuk ditebus, tapi Adi menyatakan bahwa saat itu dia tidak membawa uang sehingga Adi pun pamit pulang dulu untuk mengambil uang, dr. Pardana Dwiputra pun mempersilahkan Adi pulang dulu. Tapi ternyata Adi tidak datang lagi hari itu, sehingga dr. Pardana Dwiputra harus membayar sendiri semua biaya resep yang harus ditebus tadi.
Hari Minggu di tunggu, si Adi belum muncul juga. Hari Senin, 9 Maret 2009, dr. Pardana Dwiputra menjalani operasi pemasangan plate pada tulang radius kanannya yang patah. Pada saat dr. Pardana Dwiputra menjalani operasi, si Adi datang ke RSUD Haji dan bertemu dengan ibu dr. Pardana Dwiputra, dan sekali lagi Adi menyatakan bahwa dia akan membantu membiayai perawatan, pengobatan dan operasi dr. Pardana Dwiputra. Ketika ditanya oleh ibu dr. Pardana Dwiputra apakah Adi akan menceritakan kejadian ini pada orang tuanya, jawaban Adi adalah tidak, dia akan mengatasi hal ini sendiri.
Malam hari, Adi dihubungi dan diberitahu bahwa dr. Pardana Dwiputra sudah bisa pulang hari Selasa, 10 Maret 2009, dan Adi diminta datang untuk urusan administrasinya. Namun keesokan harinya, ditunggu sampai siang hari, Adi tetap tidak muncul. Akhirnya dr. Pardana Dwiputra memutuskan untuk membayar dulu semua tagihan biaya rumah sakit agar dapat segera istirahat dirumah, Adi pun dihubungi untuk datang kerumah dr. Pardana Dwiputra.
Ditunggu-tungu, ternyata Adi baru datang ke rumah dr. Pardana Dwiputra pada hari Jum’at bersama 3 orang temannya. Ditemui ibu dr. Pardana Dwiputra, akhirnya dibahas mengenai kejadian dan penggantian biaya rumah sakit (dr. Pardana Dwiputra tidak ikut menemui tetapi mendengarkan pembicaraan dari dalam). Ternyata Adi mengatakan dan mencoba meyakinkan ibu dr. Pardana Dwiputra bahwa sebenarnya dia tidak bersalah, bahwa dia pelan-pelan dan dr. Pardana Dwiputra lah yang melaju cepat dan menabrak mobilnya. Ibu dr. Pardana Dwiputra pun tidak percaya begitu saja, sedangkan Adi terus berusaha meyakinkan bahwa dia tidak bersalah, mendengar itu pun dr. Pardana Dwiputra memutuskan untuk keluar menemui Adi, seketika itu juga Adi langsung berhenti berusaha meyakinkan ibu dr. Pardana Dwiputra dan tidak membahas proses tabrakan itu lagi. Akhirnya dr. Pardana Dwiputra memberitahu biaya rumah sakit yang harus dibayar olehnya, sebesar kurang lebih 13 juta Rupiah. Mendengar jumlah itu Adi tampak terkejut dan menyatakan tidak mampu bila harus membayar semuanya, dr. Pardana Dwiputra pun berbaik hati dan bertanya Adi mampunya berapa, tapi dia tidak menjawab, setelah lama diam, akhirnya dia pamit pulang dulu.
Hampir seminggu tidak ada kabar, akhirnya dr. Pardana Dwiputra menghubungi Adi untuk datang kerumahnya lagi. Setelah datang, dibicarakanlah kembali masalah pergantian biaya rumah sakit, Adi tetap menyatakan bahwa dia tidak mampu bila harus membayar semuanya dan tetap tidak menjawab ketika ditanya dia mampunya berapa. Adi menyatakan bahwa dia bukan orang mampu, orang tuanya di Kalimantan hanya punya toko bangunan, kakak-kakaknya kuliah di Universitas Surabaya (Ubaya) dan dia di Surabaya kost. Tidak ditemui kata sepakat karena Adi hanya diam bila ditanya akan mengganti berapa, ketika ditanya kenapa tidak minta bantuan ayahnya, Adi menjawab ayahnya galak, akhirnya Adi pamit pulang.
Beberapa hari tidak ada kabar, Adi menghubungi dan mengatakan bahwa mobilnya adalah mobil perusahaan tempat ayahnya bekerja dan dia akan minta bantuan kepada perusahaan tersebut, karena ayahnya dulu berprestasi jadi kemungkinan perusahaan tersebut mau membantu membayar biaya rumah sakit dr. Pardana Dwiputra, tapi dia butuh beberapa berkas. Saat Adi datang untuk mengambil berkas, maka dr. Pardana Dwiputra bertanya tentang ayah Adi yang katanya di Kalimantan punya toko bangunan, tapi kok kerja di perusahaan, Adi mengatakan bahwa ayahnya sudah pensiun.
Beberapa hari kemudian Adi menghubungi lagi, mengatakan bahwa mobilnya diasuransikan sehingga biaya rumah sakit dr. Pardana Dwiputra juga akan ditanggung oleh asuransi tersebut tapi asuransinya membutuhkan berkas asli dan tidak mau menerima berkas legalisir, Adi pun memaksa dr. Pardana Dwiputra untuk menyerahkan berkas aslinya sedangkan berkas aslinya tidak ditangan dr. Pardana Dwiputra. Akhirnya Adi menyatakan bahwa dia bisa bantu kalo dr. Pardana Dwiputra menyerahkan berkas aslinya, tanpa berkas aslinya dia tidak bisa apa-apa karena pihak asuransinya menolak berkas legalisirya. Akhirnya dr. Pardana Dwiputra meminta Adi untuk membawa orang asuransinya ke rumah dr. Pardana Dwiputra, karena dr. Pardana Dwiputra ingin bicara sendiri dengan orang asuransi tersebut.
Seminggu tidak ada kabar, Adi dihubungi lagi tetapi tidak bisa, di SMS tidak delivered dan di telpon HP tidak aktif. Sampai cerita kronologis ini dipublikasikan, masih belum ada kabar dari Adi dan Adi masih belum dapat dihubungi.
Kejanggalan-kejanggalan yang ditemukan oleh dr. Pardana Dwiputra :
~ Sejak awal Adi Siswanto selalu tidak langsung datang saat diminta bertemu
~ Apabila tidak dihubungi dulu sering tidak ada inisiatif untuk menemui dr. Pardana Dwiputra
~ Menyatakan dirinya bukan keluarga yang mampu tapi Adi kuliah di Universitas Hang Tuah yang bisa dibilang biaya kuliahnya tidak murah
~ Menyatakan dirinya bukan keluarga yang mampu tapi kakak-kakaknya kuliah di Universitas Surabaya yang bisa dibilang biaya kuliahnya tidak murah
~ Menyatakan bahwa bapaknya sudah pensiun tapi Adi menggunakan mobil perusahaan tempat bapaknya bekerja dulu
~ Menyatakan bahwa asuransi mobilnya akan membayar biaya rumah sakit dr. Pardana Dwiputra, tapi menolak berkas legalisir
~ ketika diminta membawa orang asuransinya menemui dr. Pardana Dwiputra malah sampai cerita kronologis ini dipublikasikan, tetap tidak ada kabar dari Adi
~ Tidak dapat dihubungi sejak 9 April 2009 sampai sekarang, dicurigai mengganti nomor HP nya agar tidak dapat dihubungi dan dicari keberadaannya
Ini mahasiswa fakultas kedokteran yang seorang calon dokter yang tidak bertanggung jawab itu, ADI SISWANTO, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah angkatan 2006
Untuk teman-teman se almamater, saya mohon bantuan dan dukungannya agar masalah ini dapat segera diselesaikan
Terima kasih banyak
!!! Story Update !!! 15 April 2009 !!!
setelah sejak tangal 9 April 2009, Adi tidak bisa dihubungi karena HP nya nggak aktif, tiba-tiba tanggal 14 April 2009, semua sms yang terpending karena HP nya Adi tidak aktif, delivered semua. Adi pun membalas sms tersebut, dia berkata karena sedang ujian dia berkonsentrasi dulu ke ujiannya dan Adi mengatakan bahwa dia akan kerumah dr. Pardana keesokan harinya bersama dengan teman ayahnya.
Tanggal 15 April 2009, Adi datang bersama teman ayahnya, namanya pak Parto, beliau teman ayahnya di bisnis bahan bangunan. Pak Parto mengatakan dia diminta tolong oleh ayah dari Adi untuk membantu menyelesaikan masalah tabrakan ini karena sampai sekarang tidak ditemukan titik temu untuk menyelesaikan masalah. Beliau menceritakan bahwa ayah dari Adi menganggap bahwa anaknya tidak bersalah, jadi tidak mau kalau harus mengganti semuanya. Pak Parto mengatakan bahwa beliau dititipi uang oleh ayah dari Adi, kemudian amplop uang tersebut diberikan pada dr. Pardana. Melihat amplop yang sangat tipis, dr. Pardana pun bertanya berapa jumlah uang yang ada di dalamnya, pak Parto menjawab bahwa jumlah uangnya adalah 1,5 juta rupiah, itu adalah uang solidaritas dari ayahnya Adi katanya. Mendengar itu, dr. Pardana langsung meletakkan uang tersebut dimeja dengan ijin pak Parto.
dr. Pardana menjelas bahwa biaya yang dikeluarkan untuk rumah sakit adalah sekitar 13 juta rupiah dan dr. Pardana keberatan kalo Adi hanya mengganti sebesar 1,5 juta, karena dalam kejadian tersebut dr. Pardana adalah korban. Lalu dr. Pardana menjelaskan pada pak Parto bahwa bisa saja ayah dari Adi ini beranggapan seperti itu karena hanya mendengar cerita dari satu sisi saja, yaitu versi Adi, sedangkan ayah dari Adi belum mendengar cerita dari versi dr. Pardana ataupun versi dari saksi-saksi yang ada saat kejadian dan sangat wajar bila seorang ayah akan membela anaknya.
Akhirnya dr. Pardana menjelaskan kepada pak Parto bagaimana kejadian tabrakan itu menurut versi dr. Pardana dan menjelaskan pula fakta-fakta dan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa yang melaju kencang adalah mobil yang dikendarai oleh Adi bukan motor yang dikendari oleh dr. Pardana. Saat bercerita, dr. Pardana (saat itu duduk bersebelahan dengan Adi) memperhatikan Adi mulai gelisah dan nafasnya mulai memburu menunjukkan tanda-tanda emosi, dan benar saja, saat di klarifikasi oleh dr. Pardana tentang saat kejadian Adi mengatakan bahwa dia mempercepat laju mobilnya untuk menghindari tabrakan, spontan dia menjelaskan dengan emosi tinggi. Belum selesai Adi bicara, pak Parto memotong omongan Adi, beliau mengatakan akan memberitahukan dulu pada ayahnya Adi tentang pembicaraan hari itu dan akan kembali datang ke rumah dr. Pardana keesokan harinya untuk memberitahukan kepada dr. Pardana tentang hasil pembicaraannya dengan ayahnya Adi.
Akhirnya pak Parto dan Adi pamit pulang, dan tidak lupa dr. Pardana menyerahkan kembali amplop uang yang tadi diletakkan di meja.
!!! Story Update !!! 18 April 2009 !!!
Sesuai dengan perkataan pak Parto, keesokan harinya pak Parto dan Adi datang lagi kerumah dr. Pardana. Pak Parto menceritakan bahwa beliau sudah berbicara dengan ayah dari Adi dan menceritakan hasil pembicaraan antara pak PArto dengan dr. Pardana ada hari sebelumnya. Ayah dari Adi akhirnya mau menambah uang penggantinya menjadi sebesar 3 jt rupiah. dr. Pardana menanyakan apakah ayah dari Adi tetap mempertahankan pendapatnya bahwa Adi tidak bersalah, pak Parto menjelaskan bahwa ayah dari Adi sudah tidak mempermasalahkan siapa yang benar dan siapa yang salah lagi, ini adalah musibah yang bisa terjadi pada siapa saja.
Akhirnya dr. Pardana dan ibunya sepakat, agar masalah ini cepat selesai dan tidak terus berlarut-larut, dr. Pardana meminta agar pergantiannya dinaikkan jadi 5 juta saja, dr. Pardana mengikhlaskan sisanya, jadi dr. Pardanaminta melalui pak Parto agar 5 juta itu dipenuhi dan masalah dianggap selesai.
Pak Parto menyampaikan bahwa dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri, akan dibicarakan lagi dengan ayah dari Adi, dan sekaligus pamit untuk pulang.
Akhirnya, tanggal 18 April 2009, pak Parto dan Adi datang lagi ke rumah dr. Pardana. Pak Parto menyatakan bahwa keinginan dr. Pardana untuk pergantian sebesar 5 juta rupiah, dipenuhi oleh ayah dari Adi. Lalu bersama-sama membuat surat pernyataan yang menjelaskan bahwa masalah ini telah selesai. Uang diserahkan pada dr. Pardana dan surat pernyataan ditandatangani oleh Adi dan dr. Pardana. Masalah selesai.
!!! CASE CLOSED !!!

Recent Comments